MISI EVANGELIS MEMBAWA KABAR SUKACITA

Matius 27-28

  1-10    11-20    21-26    27    28  

Matius 27 - Penyaliban Yesus

Ayat 1-2 Keputusan yang tidak sah untuk membunuh Yesus pada pagi hari itu, telah berubah menjadi keputusan yang sah secara hukum, yang di tetapkan oleh seluruh imam kepala dan tua-tua. Kita tidak tahu alasan mengapa Matius meninggalkan para ahli Taurat dan Lukas 22:66 menceritakan tentang ahli Taurat. Para ahli Taurat tidak lagi hadir, apakah suatu bukti spiritual yang membuktikan bahwa Yesus telah melakukan penistaan?
Pada 6 SM, seorang Gubernur Romawi diangkat di Yudea namun membatasi wilayah operasional Sanhedrin, otoritas Yahudi tertinggi yang sekuler (termasuk menvonis hukuman mati) dan masalah-masalah rohani. Hukum eksekutif termasuk juga hukuman dan eksekusi hukuman mati hanya ada di tangan gubernur atau prokurator Romawi (Yohanes 18:31) yang tinggal di Kaisarea, bukan di Yerusalem. Sanhedrin hanya bertugas untuk menyelesaikan urusan lokal, sementara otoritas hukum tertinggi tetap berada di tangan gubernur sesuai dengan aturan Romawi yang berlaku saat itu. Pontius Pilatus adalah prokurator A.C. 26-36 (gelar resminya) dari Yudea. Flavius Yosefus menggunakan jabatan gubernur terutama sebagai komandan militer. Dikarenakan sejumlah besar orang Yahudi berada di Yudea dan di luar Yudea (dan adanya kemungkinan pemberontakan dan kerusuhan) namun Pilatus berada di Yerusalem. Besar kemungkinannya berada di benteng Antonia di sebelah utara alun-alun bait suci atau di Istana Herodes di timur laut Yerusalem (namun ini sepertinya tidak munkin bahwa kerajaan Herodes berada di timur laut mengacu pada apa yang ditulis di Lukas 23:7).
Dikarenakan keputusan yang diberikan Sanhedrin untuk membunuh Yesus tidak dapat dilakukan, maka Yesus diikat dan dipindahkan ke Pilatus agar gubernur dapat mengkonfirmasi dan melakukan penghakiman.

Ayat 3-4 Penolakan oleh Petrus menyebabkan penyesalan dan pertobatannya. Pengkhianatan oleh Yudas menyebabkan kematiannya. Tidak dijelaskan apakah pertobatan Yudas terjadi setelah malam penghakiman atau setelah Yesus dibawa ke Pilatus. Namun di setiap kasus, ia kembali ke para imam kepala dan tua-tua (dan bertanya apakah masih dalam pertemuan?). Lalu Yudas pun berbicara di muka umum: “Aku TELAH berdosa dan aku telah mengkhianati darah orang yang tidak bersalah”. Mengapa Anda semua menertawakannya? Namun mereka telah mencapai tujuan mereka dan tidak memiliki urusan apa-apa lagi serta tidak membutuhkan Yudas lagi. Keputusan yang diambil Yudas untuk mengkhianati orang yang tidak bersalah sudah terlambat, keputusan telah diambil untuk membunuh Yesus. Tidak ada yang dapat dilakukan Yudas untuk mengubah apa pun. Yudas bersalah dan setiap manusia adalah individu yang bertanggung jawab atas tindakannya. Terlepas dari kenyataan bahwa nubuat-nubuat itu digenapi dan meskipun demikian setan telah masuk kedalam Yudas. Karakter Yudas (pencuri, ketidakjujuran, keserakahan) telah menyebabkan kejadian ini. Bagi umat Yahudi, pertobatan terkait erat dengan kewajiban untuk pemperbaiki yang salah dan memberi kembali. Lukas 19: 8-9 adalah contoh yang jelas mengenai hal ini: “orang yang tidak percaya yang datang kepada iman, bertobat dan memberikan kompensasi atas barang-barang curian itu kepada pemilik yang sah”
Tumpahnya darah orang yang tidak bersalah adalah kesalahan yang sangat serius di Perjanjian Lama. Sehingga proses pengadilan tersebut harus dibuka kembali. Bukan hanya pengkhianat itu bersalah, tetapi juga para hakim yang telah memberikan keputusan hukuman tersebut adalah bersalah. Tetapi para hakim tersebut tidak menghormati keputusan mereka sendiri dan menjawabnya dengan: “Apalah itu bagi kita?” Mereka yang berpura-pura menghormati dan memelihara hukum Musa adalah orang-orang yang tidak aktif terhadap hukum.
Pelajaran: Betapa berbahayanya ketika minoritas ingin memperjuangkan kehendak mereka pada mayoritas, saat minoritas ingin mengubah hukum dan berhasil mendaftarkan kehendak mereka ke dalam hukum (hal ini bertentangan dengan perintah dan ketetapan Allah) sehingga mayoritas harus patuh. Bayangkanlah, membiarkan hubungan seks dengan anak-anak dan hewan, hukuman penjara bagi orang-orang yang memperingatkan homoseksualitas, tidak lagi ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Penduduk harus waspada dan tanpa toleransi memprotes undang-undang supaya diterima Pemerintah, mereka tidak lagi membeli produk dari perusahaan yang mempromosikan hal yang bertentangan dengan ini.

Ayat 5 Sekarang imam kepala dan tua-tua tidak ingin mengambil kembali uang darah. Yudas harus menghadapi masalah bahwa ia harus membayar dosanya dengan satu atau lain cara. Para imam kepala dan tua-tua berkumpul di Pengadilan orang-orang bukan Yahudi atau di Istana Kayafas. Maka Yudas pergi ke bait suci (tempat pengorbanan berlangsung) dan melemparkan uang ke bait suci. Apa yang kita bayangkan mengenai kejadian ini? Kita tidak tahu. Apakah ketiga puluh keping perak yang ada di dalam tas kecil itu tidak menarik buat pengadilan? Yudas mengayunkan tas dimana uang tersebut disimpan ke dalam bangunan kuil dan kepingan-kepingan uang perak keluar dari tas tersebut berhamburan ke dalam kubah (Suci)? Yang berakibat pencemaran kubah suci oleh uang darah. Maka Zakharia. 11:11 dan 13 tergenapi.
Akhir yang menyedihkan bagi Yudas yang pergi dan gantung diri. Apakah ini yang dituliskan oleh Kisah Para Rasul 1:18 bahwa ususnya keluar ? Kita tidak tahu. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa talinya putus dan dia jatuh dari tebing.
Biarlah ini menjadi pelajaran bagi orang percaya. Tuhan ingin mengampuni, membuat kita menyesal dan bertobat. Dia tidak meminta kematian kita dan penghukuman kita ke lautan api, namun hanya untuk beriman kepada Yesus Kristus demipengampunan dosa. Sehingga kita jiga memunkinkan, membatalkan tindakan kita yang salah (Lukas 19: 8). Betapa beratnya dosa kita, namun dengan pengampunan Tuhan, dengan mengakui kesalahan dan dosa segalanya munkin. Dalam Yesus Kristus kita akan mendapatkan pengampunan.

Ayat 6 Para imam yang melayani di bait suci melihat apa yang terjadi. Dengan ngeri mereka melihat uang bergulir di bait suci. Para imam yang melayani di bait suci ini sadar akan apa yang telahterjadi di malam hari dan keputusan-keputusan para imam kepala (Lukas 1:23). Mereka memberi tahu para imam kepala yang sekarang akan menghadapi masalah. Uang itu tidak dapat dimasukkan ke dalam perbendaharaan karena menurut kata-kata mereka sendiri itu adalah uang darah (yang merupakan uang yang diperoleh sebagai imbalan untuk pembunuhan) sehingga tidak perlu menyewa seorang pelacur untuk dibawa ke bait suci (Ul. 23:18), dengan demikian mengakui bahwa mereka secara sadar melakukan pembunuhan.

Ayat 7-8. Mereka memutuskan untuk membeli ladang untuk pemakaman orang asing dan untuk pengunjung kafir ke Yerusalem: uang untuk tempat yang kotor yang ditujukan untuk orang yangkotor juga. Apakah ladang ini adalah tempat di mana tanah liat dihasilkan untuk membuat tembikar namun sekarang tidak lagi menghasilkan tanah liat, sehingga menjadi sebidang tanah yang tidak berguna yang dapat dibeli dengan harga murah? Di masa depan, ladang ini (Kisah Para Rasul 1:19) akan disebut ladang darah yang sampai sekarang masih ada di Lembah Hinom, Yerusalem Selatan.

Ayat 9-10 nubuat yang dipenuhi adalah ada didalam Yeremia 18 dan 19, dan Zakharia 11. Matius tidak menggunakan teks secara literal, tetapi jelas nilai estimasi tiga puluh keping perak dan penjualan tanah tukang periuk digenapi di sini.

Ayat 11-14 Yesus dibawa ke Pilatus bukan dengan tuduhan penistaan dari Kepala imam, tetapi dengan tuduhan kerusuhan: Raja orang Yahudi. Pilatus tidak bersimpati kepada orang Yahudi. Seorang pria yang mengaku sebagai Raja orang Yahudi dibawa kehadapan dia. Secara politis hal ini memiliki makna yang sangat berbeda bagi Pilatus dibandingan bagi orang Yahudi. Sejauh mana Pilatus mengerti dengan Yudaisme tentang Mesias, kita tidak tahu. Namun di satu sisi, Pilatus ingin melakukan keadilan dan tidak ingin mengutuk orang yang tidak bersalah, tetapi posisinya sendiri sebagai gubernur menurutnya lebih penting dan karena itu dia rela mengorbankan Yesus.
Dengan jawaban Yesus: "Kamu telah mengatakan demikian" (Yohanes 18:37 Kamu mengatakan bahwa Aku adalah seorang raja) yang tidak membantu Pilatus yang merupakan bukan pengakuan. Pilatus terkejut karena di hadapannya berdiri seseorang yang mendapatkan banyak tuduhan namun Yesus tidak membela diri-Nya dan hanya terdiam. Apa yang harus Pilatus lakukan dengan orang ini? Jelas Yesus berada di atas situasi ini karena Dia situasi ini ada di bawah kendali-Nya dan Dia tidak takut. Dia tahu bahwa Pilatus tidak memiliki kekuatan. Yohanes 18:36” Rajaku bukan dari dunia”. Yesus tahu bahwa Ia akan disalibkan.
Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya. Apakah kita akan membela diri terhadap banyaknya tuduhan (palsu) yang diberikan orang-orang tidak percaya kepada kita? Atau akankah kita tetap diam dan memberikan Roh Kudus kesempatan untuk membela kita yang terkadang sama sekali tidak menanggapi tuduhan tersebut dan kita akan tetap terdiam? Paulus membiarkan pencambukan untuk nya dan setelah pencambukan itu, ia menyatakan naik banding bahwa ia adalah orang Romawi (Kis. 16: 22-23, 36-37).
Pilatus membiarkan penanguhan atas dirinya oleh para imam kepala. Dihadapannya berdiri seorang Raja orang Yahudi yang tetap terdiam. Raja orang Yahudi dapat membahayakan posisinya dengan pemberontakan dan kerusuhan yang bisa membebaskan orang-orang Yahudi dari kuk Romawi. Tetapi dia sadar bahwa tuduhan tersebut dan keinginan orang-orang Yahudi untuk menyalibkan Raja mereka sendiri adalah salah dan merupakan suatu hal yang aneh. Imam kepala menyatakan bahwa tertuduh merupakan pejuang kemerdekaan yang mendapat tuduhan kerusuhan, namun dihadapan nya yang dia temui adalah seseorang yang terdiam diam dan penuh dengan damai. Kontradiksi yang sangat besar, sehingga Pilatus menyimpulkan bahwa tuduhan tersebut tidalah sesuai. Pilatus malu dengan kasus ini dan ingin melepaskan dirinya dari kasus ini sehingga mengirim Yesus ke Herodes (Lukas 23: 8-12). Tetapi Herodes mengembalikan kasus itu kepada Pilatus

Ayat 15-18 Sudah menjadi kebiasaan gubernur untuk membebaskan seseorang atas pilihan rakyat. Apakah hal ini adalah hal yang wajar? Apakah ini hanya terjadi pada saat Paskah atau pada umumnya? Juga kita tidak tahu. Namun biar bagaimanapun hal tersebut sudah pernah terjadi sebelumnya dan gubernur biasanya menggunakan cara ini untuk menyenangkan orang-orang Yahudi. Hal ini digunakan untuk mengurangi kebencian terhadap penjajah Romawi dan diharapkan untuk mengurangi ketegangan yang keras antara orang Yahudi dan sekitar selama Paskah. Seperti pada jaman sekarang, ini adalah hal yang wajar untuk memberikan amnesti yang juga terkadang di lakukan oleh presiden suatu negara.
Barabas adalah seorang pejuang kemerdekaan yang dipenjarakan karena pembunuhan (Lukas 23:19) dan sedang menunggu persidangannya. Pilatus sadar (tahu = èidei) bahwa Yesus telah dijadikan tertuduh berdasarkan rasa iri (= dia phthonon) (ayat 18). Pilatus pun sadar bahwa di hadapannya berdiri seorang yang tidak bersalah, yang tidak dapat ia kutuk. Namun dia takut akan terjadinya kerusuhan. Maka Pilatus mencoba untuk membebaskan Yesus dengan cara mengusulkan untuk memberikan amnesti kepada seorang pembunuh terkenal. Cara ini dilakukan dengan harapan orang-orang tidak akan memilih untuk membebaskan pembunuh tersebut. Namun disayangkan rencana Pilatus tersbut gagal dan membiarkan orang-orang menentukan pilihannya. Pilatus sebagai seseorang yang memiliki wewenang dan sebagai gubernur seharusnya dia menyatakan dengan jelas dan mengatakan, “saya tidak menemukan kesalahan dalam dirinya dan membebaskan Yesus” Itu adalah tanggung jawab penuh Pilatus.
Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya, apakah kita akan mengambil keputusan sesusai dengan kebutuhan kita atau kita akan menyampaikan Firman Allah secara akurat dan jujur?

Verse 19 Ayat 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan dan menunggu untuk mendengar keputusan dari rakyat, datanglah pesan dari istrinya: “Dalam mimpi aku telah merasakan penderitaan orang benar ini”. Kenyataan bahwa istri dari pemimpin yang berpengaruh memiliki banyak dampak pada suami mereka bukanlah suatu fenomena asing.
Menurut kisah apokrifa, Pilatus akan memberi tahu orang-orang Yahudi dan mengatakan kepada mereka: “Anda tahu bahwa istri saya takut akan Allah dan mematuhi iman Yahudi dan hidup dalam persekutuan yang sama dengan Anda?” Lalu orang-orang Yahudi tersebut menjawab dengan: “Ya, kami tahu itu.” Setelah jawaban ini Pilatus menyampaikan pesan istrinya kepada mereka. Namun orang-orang tersebut menjawab: “Itu adalah mimpi jahat yang dikirim Yesus sebagai penyihir kepadanya. Dengan cara ini, wanita ini akan berada di sisi iblis”. Sungguh suatu tuduhan yang jahat! Bagi Pilatus, ini sudah jelas bahwa orang-orang tersebut ingin menyingkirkan Yesus dengan cara apa pun.
Terlepas kisah apokrif ini benar atau tidak, bagi Pilatus itu seharusnya sudah menjadi peringatan besar. Karena mimpi yang diilhami oleh Tuhan melalui wahyu Ilahi menyatakan bahwa pria ini benar-benar tidak bersalah. Meskipun orang-orang terbaik dan tertinggi tidak mau mendengarkan ini. Maka Pilatus sebagai gubernur, janganlah terlibat dalam penumpahan darah orang tidak berdosa dan perintahkanlah penghakiman yang benar.
Pelajaran bagi mereka yang harus menghakimi orang (hakim, pengacara, dll.) Apakah mereka memikirkan kepentingan khusus mereka sendiri dan manfaatnya untuk diri sendiri? Atau mereka membela yang tidak bersalah dan membantu yang tidak bersalah?

Yesus dan orang-orangAyat 20 Mereka adalah imam-imam kepala dan tua-tua yang mempengaruhi rakyat dan sungguh betapa sesungguhnya ini adalah suatu tanggung jawab umat beragama yang mengaku menyembah dan melayani Tuhan. Sekarang bagaimana kita tidak melihat ini di antara para pemimpin politik yang telah menipu rakyat demi kesejahteraan mereka sendiri dengan kepalsuan dan tujuan pribadi (tersembunyi). Tujuan para pemimpin Yahudi adalah kematian Yesus. Populasi manusia benar-benar buta saat itu. Di hadapan mereka berdiri seorang Raja, Yesus yang merupakan masa depan mereka, Pembebas dosa dan setan, Pengampun dosa, Penyembuh penyakit dan setan. Namun mereka buta dan meminta kematian-Nya karena digerakkan oleh para pemimpin mereka (yang buta).

Ayat 21 Orang-orang menjawab: “Barabas”. Seharusnya ini adalah tugas yang mudah bagi para imam kepala dan tua-tua untuk membujuk orang banyak. Barabas adalah seorang pejuang kemerdekaan yang memberontak melawan kekuasaan Romawi dan kuk. Dia ingin membebaskan Yudea, namun Yesus ini hanya berbicara tentang dosa dan pertobatan. Di mata orang-orang, Yesus tidak memenuhi tugas Mesias-Nya untuk membebaskan orang-orang Romawi.

Ayat 22 Pilatus telah meletakkan keputusan di tangan orang-orang Yahudi dan dengan jawaban mereka, sekarang ia mengalammi kesulitan. Pilatuspun melontarkan pertanyaan kepada orang-orang tersebut: “Apa yang harus saya lakukan dengan Yesus?” Menurut Yohanes 19:6 adalah imam kepala dan pelayan mereka yang berteriak lebih dulu: “Salibkan dia”. Yohanes 19:6-12 memberikan laporan yang lebih luas. Menurut orang-orang, Yesus berkata bahwa Dia adalah anak Allah. Pilatus-pun menjadi semakin takut bahwa dia akan menyalibkan Anak Allah dan pembalasan para dewa akan segera terjadi padanya. Pilatus menanggapi Yesus dengan benar bahwa ia memiliki kuasa untuk membebaskan Dia.
Imam kepala bertanggung jawab untuk mengatur kemarahan orang-orang ini, tetapi itu tidak menghentikan orang-orang dari partisipasi dan keterlibatan mereka. Pelajaran: Waspadalah terhadap pemimpin kelompok minoritas karena mereka hanya memiliki tujuan dan kepentingan mereka sendiri. Jaga agar seseorang tidak disesatkan dan melawan hukum Tuhan. Orang percaya harus waspada dan menyelidiki tujuan yang benar agar tidak menjadi kaki tangan dan bersalah di hadapan Allah.

Pilatus bertanggung jawab atas kematian Yesus

Ayat 23-25 Pilatus adalah seorang pengecut, dia adalah PENGADILAN. Ia yang SEPENUHNYA memiliki otoritas dan gubernur Romawi (pagan) yang bertanggung jawab. Namun, ia lebih khawatir akan pemberontakan dan dikalahkan oleh Kaisar di Roma. Dia berlindung dengan mencuci tangannya dari kasus tersebut merupakan hal yang sangat terkenal untuk orang Yahudi, lihat Ul. 21: 6-7. Yang jelas bagi imam-imam kepala, para penatua dan orang-orang adalah bahwa Pilatus menyatakan Yesus tidak bersalah: “Saya tidak bersalah atas darahnya, tetapi kalian tahu apa yang terjadi karenanya dan itu adalah kepalsuan.” Jika ada yang tahu seseorang merencanakan pembunuhan dan Anda tidak menghentikan orang tersebut atau orang yang akan menjadi korban tidak diperingatkan bahwa dia akan dibunuh, maka Andapun terlibat dan bertanggung jawab. Penyebab utama kematian adalah penyembah berhala, hakim dan gubernur Pilatus yang mengizinkan Yesus disalibkan. Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa seluruh orang Yahudi (hanya sebagian kecil dari populasi hadir untuk Pilatus) bersalah atas kematian Yesus dan tuduhan mereka: „Darahnya ada pada kita dan anak-anak kita“, berlaku untuk imam kepala, tua-tua. dan orang-orang yang hadir di sana dan bukan hanya umat Yahudi. Pilatus sang penyembah berhala adalah yang bertanggung jawab utama!
“Orang-orang Kristen "yang dengan proklamasi ini berpendapat bahwa orang Yahudi dengan penyaliban Yesus Yahudi, menyatakan murka Allah atas diri mereka sendiri telah mengabaikan tanggung jawab Pilatus. Tetapi yang lebih penting adalah Allah dan Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada terjadinya penyaliban Yesus. Orang Kristen harus mengerti bahwa tanpa penyaliban, tidak mungkin ada pengampunan dosa.

Penyaliban Yesus adalah kenyataan penting yang pahit untuk pengampunan dosa.

Setiap orang Kristen harus memiliki kesadaran akan dosa dan menyadari bahwa ia telah membuat Yesus sampai mati di kayu salib. Dengan dosa-dosa Anda, Anda telah menghukum Yesus dengan penyaliban. Yesus adalah Dia yang telah menghapus hukuman Anda atas dosa, asalkan Anda percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi Anda

Pencambukan Yesus

Pencambukan YesusCambuk romanAyat 26: Pilatus menyerah dan membiarkan Barabas bebas. Pencambukan adalah cara Romawi sebelum penyaliban. Momok Romawi terdiri dari tongkat kayu pendek dengan ikat pinggang berbeda. Setiap sabuk kulit memiliki potongan timah atau tembaga dengan ujung-ujung yang tajam. Korban harus membungkuk dan biasanya satu tentara berdiri di sisi kanan dan yang lain di sisi kiri korban, sehingga pukulan menembus jauh ke dalam daging yang menyebakan seringkali urat-urat akan pecah. Kapten akan menghitung jumlah cambukan dan memberi perintah pada setiap cambukan. Sering kali korban sudah mati di bawah pencambukan ini, oleh karena itu batas maksimum adalah 40 cambukan.

Crown of thornsJubah merahAyat 27-30 Apa yang dimaksud dengan praetorian tidaklah jelas. Namun bangunan ini diperuntukkan bagi seluruh batalyon (500-600 tentara). Para prajurit mulai menghina Yesus dengan sangatmengerikan. Mereka membuatkan pakaian-Nya, memberi-Nya jubah (warna merah tua sampai ungu) dan sebuah mahkota. Yesus yang akan menjadi Raja orang Yahudi (seperti dakwaan dalam ayat 11 terdengar) dihina dengan cara yang mengerikan dan diberikan jubah kerajaan dengan mahkota duri. Jubah merah yang dikenakan tentara Romawi digunakan di sini sebagai jubah kerajaan. Sebuah karangan bunga daun acanthus tanaman berduri yang tumbuh banyak di Yudea. Betapa sulit bagi Yesus untuk tidak menunjukkan kuasa-Nya, tetapi menjalani hinaan ini dengan tenang. Yesus bisa saja memanggil pasukan malaikat untuk menghukum prajurit-prajurit ini, tetapi Ia terus bertahan dalam kehendak Bapa-Nya. Menghina, menyembah dan satu per satu berlutu dan berkata: “Engkau Raja orang Yahudi”. Dengan kata lain, “Di mana kuasa-Mu ? di mana tentara-Mu ? Kami adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan atas diriMu”. Pada saat yang sama, setiap prajurit meludahi wajah-Nya dan mencambuk dengan tongkat duri lebih dalam ke dalam daging kepala Yesus. Darah terus mengalir dari kepala-Nya dan ke mata-Nya. Para prajurit Romawi yang sering jatuh dalam serangan pejuang kemerdekaan Yahudi, mengambil kesempatan ini untuk melampiaskan semua kemarahan, kebencian dan agresif mereka pada orang Yahudi, Raja orang Yahudi, Yesus.
Apa yang dilakukan tentara tanpa disadari, sangatlah nyata. Mahkota duri melambangkan kutukan dosa yang diletakkan di atas kepala Yesus. Ini merujuk kembali ke Kejadian 3:18 (DOSA telah dibawa ke dunia, kutukan duri dan onak) dan mengingatkan kita mengapa Yesus disalibkan sebagai pengganti hukuman dosa kita!

Ayat 31 Setelah permainan yang kejam ini, Yesus dibawa pergi untuk disalibkan. Yohanes 19:4-16 memberikan jeda antara permainan para prajurit dan penyaliban. Pilatus tidak hadir ke arak-arakan yang dilakukan para prajurit dimana dia munkin dapat mengakhiri itu. Yohanes menyatakan bahwa Yesus dibawa kembali kepada Pilatus, diejek dan berlumuran darah. Yesus menampakkan diri lagi kepada para imam kepala dan para petinggi. Pilatusp pun menjadi takut ketika orang-orang berteriak: “Dia harus mati karena Dia telah menjadikan diriNya sendiri Anak Allah.” Pilatus berbicara kepada Yesus.
Kita ingat kata-kata Yesus tentang pengkhianat-Nya, Yudas: “Celakalah orang yang mengkhianatiku.” Kita dapat menarik kesimpulan hal ini kepada Pilatus yang memiliki semua kuasa untuk tidak menyalibkan Yesus. Dan celakalah imam-imam kepala!
Tetapi Pilatus adalah seorang pengecut. Setelah orang banyak berkata “Jika kamu membebaskan orang ini, kamu bukan teman Kaisar.” Pilatus sangat takut kepada Kaisar yang dapat menghukum dan membunuhnya. Tetapi ketakutannya seharusnya jauh lebih besar bagi Tuhan yang akan menghukumnya dan membunuh.

Penyaliban Yesus

Ayat 32: Kemungkinan para prajurit Romawi kuatir bahwa Yesus akan kelelahan dan tidak akan mampu memikul salib ke Golgota sehingga mereka tidak akan bisa melakukan penghakiman dan penyaliban. Mungkin karena alasan itulah mereka mencari seseorang untuk memikul salib. Mata merekapun tertuju kepada Simon. Tidak ada yang tahu seberapa berat kah salib tersebut.

Ayat 33-36 Golgota (bahasa Ibrani) kemungkinan adalah batu berbentuk tengkorak. Namun tempat yang sebenanya sampai saat ini masih kontroversial. Menurut adat Yahudi, Yesus diberi anggur yang dicampur dengan empedu untuk membuat-Nya idak sadarkan diri. Namun Yesus tidak mau meminumnya dikarenakan mungkin Yesus untuk sepenuhnya melakukan kehendak Bapa-Nya disurga dan menjalani penderitaan sepenuhnya di kayu salib dengan keadaan sadar.
(sumber: Wikipedia) Saat ini diasumsikan bahwa mengikat anggota tubuh dengan tali adalah cara yang paling umum digunakan dan penyaliban dengan paku hanya di peruntukan untuk kasus yang paling parah. Pada proses penyaliban, ada beberapa kemungkinan penyebab kematian. Biasanya korban akhirnya mati karena tercekik yang diakibatkan oleh berat seluruh tubuh yang hanya tergantung pada lengan mereka yang menjulur lurus ke atas menyebabkan mereka sulit untuk bernapas. Mungkin juga seorang korban bisa meninggal karena serangan jantung, gagal organ atau dehidrasi. Korban hanya kehilangan darah dari luka luka yang kecil. Dimulai dengan pukulan keras untuk melemahkan otot, lalu bahu korban diikat kebalok salib dan harus berjalan ke tempat eksekusi. Setelah tiba di tempat eksekusi, maka kayu salib akan ditancapkan diposisinya. Seiring dengan waktu,bersamaan dengan berat tuuh, makan tubuh korban akan merosot lebih jauh ke depan dan ke bawah sehingga membuat pernafasan menjadi sangat sulit dan kelembapan akan naik ke paru-paru. Korban akan berusaha mencegah agar tidak tersedak dengan memposisikan tubuh keatas dengan kakinya. Hal ini membutuhkan banyak kekuatan dan sangat menyakitkan yang mengakibatkan lama kelamaan tidak ada gunanya. Korban akan mati lemas ketika caranya untuk menaikan posisi tubuh tidak lagi berhasil. Tergantung pada kondisi korban, metode penyaliban dan faktor lainnya, kematian dapat terjadi hanya dalam beberapa jam saja dan bisa sampai beberapa hari.
Menurut hukum Yahudi (Ulangan 21:23) seorang korban tidak diijinkan untuk digantung semalaman. Dua penjahat yang disalibkan menurut Perjanjian Baru bersama dengan Yesus, dibunuh pada akhir hari dengan mematahkan kaki mereka sehingga mereka tidak bisa lagi mendorong dan akhirnya mati tercekik (Yesus sendiri sudah mati).
Jika korban tidak diikat dengan tali ke kayu salib, maka paku yang ukurannya berkisar antara 13 hingga 18 sentimeter dan lebarnya 1 sentimeter persegi akan ditancapkan di kayu salib. Berlawanan dengan gambaran yang ada (yang juga digambarkan pada banyak lukisan dan salib), paku-paku ini tidak ditancapkan di telapak tangan namun di pergelangan tangan. Penelitian yang dilakukan pada mayat beberapa abad yang lalu bahwa korban bisa terlepas dari salib dengan merobek telapak tangan nya jiga paku ditancapkan ditelapak tangan. Disamping itu, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh National Geographic Channel menunjukkan adanya kemungkinan bahwa kaki yang dipakukan ke kay salib menanggung berat badan sehingga telapak tangan tidak munkin akan tersobek dan dengan demikian korban akan menderita rasa sakit lebih besar. Jika paku ditancapkan dipergelangan tangan, paku akan menembus sepanjang saraf dan akan membuat posisi menarik keatas akan menjadi sangat menyakitkan karena paku tersebut akan menggores seluruh saraf (sumber akhir).
Jika korban tidak diikat dengan tali ke kayu salib, maka paku yang ukurannya berkisar antara 13 hingga 18 sentimeter dan lebarnya 1 sentimeter persegi akan ditancapkan di kayu salib. Berlawanan dengan gambaran yang ada (yang juga digambarkan pada banyak lukisan dan salib), paku-paku ini tidak ditancapkan di telapak tangan namun di pergelangan tangan. Penelitian yang dilakukan pada mayat beberapa abad yang lalu bahwa korban bisa terlepas dari salib dengan merobek telapak tangan nya jiga paku ditancapkan ditelapak tangan. Disamping itu, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh National Geographic Channel menunjukkan adanya kemungkinan bahwa kaki yang dipakukan ke kay salib menanggung berat badan sehingga telapak tangan tidak munkin akan tersobek dan dengan demikian korban akan menderita rasa sakit lebih besar. Jika paku ditancapkan dipergelangan tangan, paku akan menembus sepanjang saraf dan akan membuat posisi menarik keatas akan menjadi sangat menyakitkan karena paku tersebut akan menggores seluruh saraf (sumber akhir).
Seorang penjaga tentara yang menjaga Yesus mencegah kerabat Yesus dan pengikutNya yang ingin menurunkan Dia dari salib.

Ayat 37 Menurut adat Romawi alasan penyaliban ditulis di atas lempengan putih . Yohanes 19:19-22 menyatakan bahwa Pilatus yang mengijinkan tulisan dalam bahasa Ibrani, dalam bahasa Latin, dan dalam bahasa Yunani kalimat: “Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi.”

Ayat 38 Yesaya 53:12 menjadi kenyataan: “dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak (penjahat)”. Kemungkinan pertama adalah, bahwa Yesus disalibkan dulu sebagai Raja Orang Yahudi, kemudian seorang pemberontak dimana adanya peraturan bahwa pemimpin pemberontakan harus disalibkan di tengah-tengah, yang merupakan suatu hinaan yang jahat. Dua perampok tersebut (lèistès) mungkin adalah dua orang pemberontak.

Ayat 39-43 Para pengamat (sebagian besar dari dalam dan luar Yudea) bersama dengan para anggota Sanhedrin menghina Yesus yang merupakan suatu godaan besar bagi Yesus untuk tidak menanggapi ejekan mereka. Percobaan besar selama tiga jam (Markus 15:25 adalah jam ketiga Yesus disalibkan hingga jam keenam (Mat 27:45).
Adam yang pertama mengalami kegagalan dengan memakan buah terlarang. Adam kedua adalah Tuhan Yesus dimana Dia menolak semua pencobaan dan ejekan dan rela digantung di kayu salib, juga pencobaan saat dan setelah padang pasir (Mat 4:1-11), dimana Yesus tidak menyerah kepada musuh-musuhnya. Yesus menolak pencobaan manusia dan pencobaan setan. Setan akan melakukan apa saja untuk mengalahkan Yesus di kayu salib yang akan membuat Yesus tidak taat kepada Bapa-Nya dan perintah Bapa-Nya. Sebab setan tahu bahwa dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, maka berakhirlah kekuasaannya atas bumi.
Kata-kata Yesus diputarbalikan untuk oleh Sanhedrin melawan-Nya: “Dia menyelamatkan orang lain, biarkanlah Dia menyelamatkan diri-Nya sekarang”. Sungguh suatu godaan bagi Yesus untuk tidak keluar dari salib atau memanggil pasukan malaikat. NamunYesus tetap taat. “ Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu” (Mat 4:7).
Sanhedrin menantang Yesus untuk membuktikan diri-Nya sebagai Mesias dan untuk membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang akan membuat mereka akan percaya kepada-Nya. Jika Dia adalah putra Allah, maka biarkanlah Tuhan membebaskanNya, karena jika tidak maka jelaslah terbukti bahwa Ia berdusta dan Allah tidak berkenan kepada-Nya.
Hinaan kepada Yesus yang dilakukan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut bisa jadi merupakan bentuk dari kekecewaan mereka kepada Mesias yang mereka bawa ke Yerusalem pada masa itu dengan menunggangi anak kuda.

Ayat 44 adalah ayat Matius yang singkat. Pengejekan ketiga, yang kali ini dilakukan oleh seorang perampok. Jika mereka memang pejuang kemerdekaan maka penyaliban adalah hukuman yang wajar bagi mereka, karena mereka berjuang untuk pembebasan Yudea dan pemimpin mereka disalibkan di tengah-tengah mereka. Namun Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan dari-Nya, membebaskan mereka dari kuk Romawi.
Ayat 44 adalah ayat Matius yang singkat. Pengejekan ketiga, yang kali ini dilakukan oleh seorang perampok. Jika mereka memang pejuang kemerdekaan maka penyaliban adalah hukuman yang wajar bagi mereka, karena mereka berjuang untuk pembebasan Yudea dan pemimpin mereka disalibkan di tengah-tengah mereka. Namun Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan dari-Nya, membebaskan mereka dari kuk Romawi.
Ayat 42 menunjukkan iman penjahat yang mengakui dosa. Betapa berimannya dia yang percaya akan kehidupan setelah mati: “ Ingatlah saya ketika Anda datang ke Kerajaan Anda.” Dia tahu bahwa Yesus dan dia akan mati, tetapi percaya bahwa ini bukan halangan untuk kedatangan Kerajaan Yesus terlepas dari segalanya.
Berikut ini adalah pernyataan Yesus yang sangat penting dalam ayat 43: Sungguh, aku berkata kepadamu, hari ini kamu akan bersamaku di Firdaus. Itu berarti bahwa setelah kematian Yesus dan penjahat hutang ini, mereka berdua masuk surga. Setelah kematian di kayu salib, Yesus pergi selama tiga hari ke surga dan TIDAK ke surga. Kembalinya ke Surga, mengikuti Lukas 24: 48-51. Surga di mana orang mati dalam Yesus Kristus tinggal sampai Kedatangan Kristus yang pertama. Mengapa Yesus pergi ke firdaus, Alkitab tidak memberi tahu. Untuk mempersembahkan kepada orang-orang Yahudi yang percaya (Lazarus dan orang kaya) bahwa Dia, Yesus, telah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Sudahkah Dia Mengkhotbahkan Injil? Jelas bahwa Dia tidak pergi ke neraka untuk Khotbah di sana keselamatan dan untuk bertobat. Sekali tanpa pertobatan, tidak ada pertobatan yang mungkin terjadi setelah kematian, seperti halnya orang kaya. Di neraka, bagi orang mati menunggu hukuman terakhir Allah pada kematian kedua (Wahyu 20:11-15).

Ayat 45 Mulai dari jam keenam, yaitu jam dua belas siang, sampai jam kesembilan, yaitu jam tiga pada sore hari, datanglah suatu kegelapan atas seluruh negeri (dunia?). Ketika Matahari berada di titik tertinggi, Israel hampir berada di garis khatulistiwa, matahari benar-benar gelap selama tiga jam. Beberapa mengklaim bahwa ini adalah Eclipse dimana ini tidak munkin terjadi karena Paskah dirayakan pada saat bulan purnama dan gerhana matahari dimana hal ini menjadikan ini tidak munkin. Amos 8: 9 mengatakan "Pada hari itu akan terjadi," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah.” Tanda-tanda akhir jaman yang akan terulang di masa depan. Ini semua jelas adanya bahwa peristiwa ini dilakukan oleh tangan Tuhan, lihat ayat 54. Meskipun demikian, Sanhedrin dan orang banyak tidak menyadari bahwa mereka berurusan dengan Anak Allah. Terlepas dari semua pertanda.

Ayat 46 Yesus mengalami murka Allah atas dosa manusia, selama tiga jam ini (jam keenam sampai jam kesembilan)? Dan memanggil (aneboèsen) ke arah Tuhan dengan suara nyaring: “Allah-Ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah kata-kata dari Mazmur 22:2. Pada "mengapa" tidak ada jawaban. Di sini, Yesus membuat mazmur dengan kata-kata-Nya yang berbicara tentang Allah yang tersembunyi. Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan umat-Nya dan ya diuji, sekarang bahkan tampaknya meninggalkan Anak-Nya sendiri. Tuhan tetap diam seribu bahasa dan membiarkan Anak-Nya sendiri diuji.
Seberapa sering orang percaya melewati lembah kegelapan yang dalam dan tidak mengalami kehadiran Allah. Namun Bapa dan Yesus hadir dalam cobaan dan kesulitan dan mengawasi kita.

Ayat 47-49 Yesus mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti Dia memanggil Elia, dimana orang-orang Yahudi mengharapkan kedatangannya sebelum Mesias, ayat 49.
Anggur asam adalah anggur murah yang diminum oleh petani dan tentara dimana dalam iklim yang panas berfungsi untuk menyegarkan dan memuaskan dahaga. Memunkinkan karena rasa kasian maka diteteskannya kepada Yesus dari bunga karang yang dicelupkan kedalam anggur asam.
Olok-olokan di ayat 40-42 "Dia tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri", berbalik di sini, mari kita lihat apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia. Elia akan datang pertama dan kemudian Mesias. Namun Elia tidak akan datang.

Yesus menyerahkan Roh-Nya. Yesus telah menuntaskan tugas-Nya (ini telah selesai)

Ayat 50 adalah ayat yang sangat penting yang sering diabaikan: YESUS MENYERAHKAN ROH-NYA. Yesus mengambil hidupNya ke tangan-Nya sendiri dan menyerahkan roh-Nya, lalu Ia mati. Dia adalah Tuhan dan penguasa atas kematian dan kehidupan. Bukan penyaliban yang membunuh Dia, tetapi Yesus memberikan hidup-Nya untuk orang berdosa. Lukas 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Yohanes 19:30 “Sudah selesai!” Lalu Dia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan roh-Nya. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 10:18 “Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”Di sini, di kayu salib, Yesus menggenapi kata-kata ini: Dia memberikan hidup-Nya dan membawanya kembali setelah tiga hari.
Setan telah dikalahkan, Yesus telah menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, mati untuk dosa manusia.

Apa yang telah “Sudah selesai” oleh Yesus?

  1. Pekerjaan Yesus di bumi. Dia telah menceritakan tentang Kerajaan Surga: “Tunjukkan pertobatan mu atas dosamu, akui bahwa engkau adalah orang berdosa, dan percayalah kepada-Ku sebagai Juru Selamat dosamu.
  2. Yesus TIDAK menyerah pada pencobaan Setan. Adam telah menjadi mangsa Setan dan telah memakan buah terlarang. Melalui dia, dosa telah datang ke dunia. Yesus mendapatkan beberapa godaan setan dan Dia tidak menyerah pada godaan apa pun.
  3. Tes terbesar adalah pada hari terakhir: Menunjukkan kepada orang-orang Yahudi dan Romawi bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi. Dan dengan demikian BUKAN mati untuk dosa manusia. Dia mengabaikan para pemimpin Yahudi dan memilih Salib di tengah segala godaan. Dia tidak meminta bantuan para malaikat
  4. Di kayu salib, Yesus menanggung dosa manusia dan murka Allah Bapa atas dosa-dosa manusia
  5. Yesus telah menyelesaikan semua ini sampai akhir. Pekerjaan yang ditugaskan dari Bapa kepada Putra telah diselesaikan. Dan dengan itu, Yesus dapat menyerahkan nyawa-Nya dan memberikan Roh karena kematian adalah hukuman terakhir atas dosa. Yesus yang dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya. Sehingga semua telah selesai.

Ayat 51 Sudah selesai, kematian Adam dan Hawa, dengan memakan buah terlarang, telah berakhir. Perpisahan antara Allah dan manusia, di mana roh, yang melaluinya manusia dapat berkomunikasi dengan Allah, diambil (kematian). Tirai Yang Mahakudus dimana hanya Imam Besar yang diizinkan untuk melewatinya sekali dalam setahun, terbelah dari atas ke bawah menjadi dua bagian. Bukan seseorang yang berdiri di bagian bawah dan merobeknya. Tidak, namun dengan karya Yesus yang telah selesai, Tuhan sendiri yang merobek tirai di bait suci: oleh Imam Besar yang kekal jalan itu terbuka SELAMANYA oleh Allah, Bapa. Tidak pernah lagi tidak ada akses, sekarang akses itu abadi. Roh manusia dapat kembali dan berkomunikasi melalui Roh Kudus dengan Tuhan. Kematian Adam dan Hawa, dipulihkan dan roh dapat kembali melalui karya Yesus Kristus yang telah diselesaikan-Nya bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka
Pastor yang bertugas dibait suci saat itu melihat bagaimana tirai bait suci terbelah dua dan melaporkannya ke Sanhedrin. Meskipun demikian, mereka bertahan dan tidak melakukan pertobatan dan pengakuan. Pelajaran yang luar biasa bagi orang tersebut yang memilih bertahan dalam dosa dan ketidakpercayaannya.

Ayat 51-54 “dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.” Betapa semua ini sangat mengesankan, pertama kegelapan yang luar biasa selama tiga jam pada sore hari diikuti oleh gempa bumi. Tentunya ini hanya dari Tuhan! Meskipun demikian orang-orang dan Sanhedrin tidak bertobat dan sadar.
Ayat 51-54 “dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.” Betapa semua ini sangat mengesankan, pertama kegelapan yang luar biasa selama tiga jam pada sore hari diikuti oleh gempa bumi. Tentunya ini hanya dari Tuhan! Meskipun demikian orang-orang dan Sanhedrin tidak bertobat dan sadar.
Pelajaran: Dunia telah melihat perbuatan Tuhan, kekuatan Tuhan dalam bencana alam (yang disebabkan oleh perawatan yang buruk di bumi, oleh pencemaran lingkungan), melihat bukti dari penemuan arkeologis, bukti ilmiah, namun, manusia tetap menyangkal keberadaan Tuhan dan tidak ingin tahu bahwa dirinya adalah orang berdosa.

Ayat 55-56 Secara khusus disini disebut bahwa para wanita dari Galilea,dimana beberapa dari mereka disebutkan namanya, yang mengikuti Yesus dan memandang dari kejauhan. Mengapa memandang dari jauh ? Karena mereka takut kepada anggota Sanhedrin atau untuk tentara Romawi. Bagaimanapun, mereka hadir dan melihat penderitaan Tuhan mereka. Lalu dimanakah kesebelas murid itu? Hanya didalam Yohanes 19:26 disebutkan tentang murid yang mengasihi Yesus, yang berdiri disamping salib.

Tiga hari dan Tiga malam dikuburkan

Ayat 57, 62 Yesus mati pada hari Persiapan (Markus 15:42), yang merupakan hari menjelang Sabat. Berdasarkan Ulangan 21:23 maka tubuh Yesus (dan para penjahat) harus dikuburkan pada hari yang sama.

Namun kita melihat hal yang sangat penting didalam Im. 23, bahwa Hari Sabat dalam Hukum Taurat bukan hanya Sabat di hari minggu dimana hari ketujuh yang ditetapkan sebagai hari untuk beristirahat (Im. 23:3), tetapi hukum Taurat masih menyebutkan sejumlah hari Sabat yang dikaitkan dengan hari raya Tuhan dimana dalam Im. 23: 4 disebut sebagai: "Hari pertemuan kudus yang ditetapkan oleh TUHAN.“ Paskah bukanlah hari yang tetap namun tanggal yang tetap, yaitu tanggal 14 bulan Nisan. Ini berarti bahwa Paskah dapat jatuh pada hari yang berbeda setiap tahunnya. Setelah Paskah, maka pada tanggal 15 Nisan ditetapkan sebagai hari raya roti tidak beragi. Festival ini berlangsung selama tujuh hari dan menurut ayat 7, hari pertamanya adalah hari Sabat."Pada hari pertama kamu akan mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.". Hal yang sama juga berlaku untuk hari yang ketujuh (Im. 23: 8). Bahwa hari beristirahat ini juga merupakan hari Sabat, dimana diantara yang lainnya hari Pendamaian juga termasuk didalamnya (Imamat 23:27). Perayaan ini juga ditentukan pada tanggal yang tetap yaitu pada hari kesepuluh bulan ketujuh di Pendamaian, dimana setiap tahun bisa jatuh pada hari yang berbeda dan hari Pendamaian telah ditetapkan sebagai "waktu Tuhan". Dalam Im . 23:32 cukup jelas dinyatakan bahwa "Sabat untuk beristirahat yang khusyuk". Ketika berbicara mengenai sebuah perayaan dalam seminggu seperti Paskah dan hari raya roti tidak beragi, maka memungkin bahwa dalam satu minggu ada beberapa hari untuk istirahat yaitu Sabat yang lebih dari satu hari. Ini sangat penting untuk dipahami. Kita telah melihat bahwa dalam seminggu, seperti dalam hari raya roti tidak beragi, bisa terdiri dari beberapa hari Sabat! Sabat yang datang, setelah penyaliban Tuhan Yesus adalah hari Sabat tanggal 15 Nisan adalah hari raya Roti Tidak Beragi! Mengapa ini hari Sabat? Karena Tuhan yesus pada malam sebelum penyaliban, Dia bersama dengan murid-muridnya merayakan Paskah. Dalam Mat. 26:17: " Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?". Kemudian kita lihat dalam ayat 20: " Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu". Fakta bahwa Tuhan Yesus merayakan malam Paskah itu,menyatakan bahwa waktu itu adalah tanggal 14 Nisan Paskah Yahudi dan perarturan telah tiba! Perjamuan terakhir diadakan malam tersebut dimana pada malam yang sama Yesus ditangkap (Mat. 26: 21–75)dan dibawa keesokan paginya ke Pilatus (Mat. 27: 1-2). Dari sana Tuhan Yesus disalibkan (Mat. 27: 33–56). Namun kita melihat hal yang sangat penting didalam Im. 23, bahwa Hari Sabat dalam Hukum Taurat bukan hanya Sabat di hari minggu dimana hari ketujuh yang ditetapkan sebagai hari untuk beristirahat (Im. 23:3), tetapi hukum Taurat masih menyebutkan sejumlah hari Sabat yang dikaitkan dengan hari raya Tuhan dimana dalam Im. 23: 4 disebut sebagai: "Hari pertemuan kudus yang ditetapkan oleh TUHAN.“ Paskah bukanlah hari yang tetap namun tanggal yang tetap, yaitu tanggal 14 bulan Nisan. Ini berarti bahwa Paskah dapat jatuh pada hari yang berbeda setiap tahunnya. Setelah Paskah, maka pada tanggal 15 Nisan ditetapkan sebagai hari raya roti tidak beragi. Festival ini berlangsung selama tujuh hari dan menurut ayat 7, hari pertamanya adalah hari Sabat."Pada hari pertama kamu akan mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.". Hal yang sama juga berlaku untuk hari yang ketujuh (Im. 23: 8). Bahwa hari beristirahat ini juga merupakan hari Sabat, dimana diantara yang lainnya hari Pendamaian juga termasuk didalamnya (Imamat 23:27). Perayaan ini juga ditentukan pada tanggal yang tetap yaitu pada hari kesepuluh bulan ketujuh di Pendamaian, dimana setiap tahun bisa jatuh pada hari yang berbeda dan hari Pendamaian telah ditetapkan sebagai "waktu Tuhan". Dalam Im . 23:32 cukup jelas dinyatakan bahwa "Sabat untuk beristirahat yang khusyuk". Ketika berbicara mengenai sebuah perayaan dalam seminggu seperti Paskah dan hari raya roti tidak beragi, maka memungkin bahwa dalam satu minggu ada beberapa hari untuk istirahat yaitu Sabat yang lebih dari satu hari. Ini sangat penting untuk dipahami. Kita telah melihat bahwa dalam seminggu, seperti dalam hari raya roti tidak beragi, bisa terdiri dari beberapa hari Sabat! Sabat yang datang, setelah penyaliban Tuhan Yesus adalah hari Sabat tanggal 15 Nisan adalah hari raya Roti Tidak Beragi! Mengapa ini hari Sabat? Karena Tuhan yesus pada malam sebelum penyaliban, Dia bersama dengan murid-muridnya merayakan Paskah. Dalam Mat. 26:17: " Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?". Kemudian kita lihat dalam ayat 20: " Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu". Fakta bahwa Tuhan Yesus merayakan malam Paskah itu,menyatakan bahwa waktu itu adalah tanggal 14 Nisan Paskah Yahudi dan perarturan telah tiba! Perjamuan terakhir diadakan malam tersebut dimana pada malam yang sama Yesus ditangkap (Mat. 26: 21–75)dan dibawa keesokan paginya ke Pilatus (Mat. 27: 1-2). Dari sana Tuhan Yesus disalibkan (Mat. 27: 33–56).
Kita sekarang melihat dalam Lukas 23: 55–56, ada seuatu yang menonjol: " Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat ". Di sini tertulis bahwa mereka menyiapkan rempah-rempah sebelum Sabat dan kemudian beristirahat! Disini kita berurusan dengan dua hari Sabat. Sabat mingguan, dan satu lagi Sabat hari besar tahunan! Ketika kita menggabungkan Markus 16 dan Lukas 23, kita dapat menyimpulkan bahwa para wanita menyiapkan rempah-rempah setelah hari Sabat yang besar (yang dinyatakan dalam Markus), mereka persiapkan dan kemudian mereka beristirahat pada Sabat mingguan (yang dikatakan Lucas ). Kedua hari Sabat dipisahkan oleh satu hari kerja! Dan setelah Sabat mingguan itu mereka mendapati bahwa kuburan itu terbuka (Lukas 24: 2). Yang kita tahu sekarang, adalah bahwa pada hari pertama minggu itu (Minggu) makam itu kosong. Sehari sebelumnya, itu adalah hari Sabat. Sehari sebelumnya (Jumat) adalah hari kerja, di mana rempah-rempah dibeli dan disiapkan. Kamis sebelum itu adalah hari Sabat yang besar. Dan sehari sebelumnya (Rabu !!!) Yesus disalibkan dan dikuburkan! Perjamuan terakhir diadakan pada Selasa malam! Dan sekarang kita juga melihat bahwa Firman Allah itu benar dalam surat itu, karena sekarang ada tiga hari tiga malam, bahwa Tuhan Yesus ada di dalam kubur dan di dalam jantung bumi!
Firman Tuhan itu benar: tiga hari tiga malam!
Rabu malam malam = 1. Kamis = hari 1.
Kamis malam = malam 2. Jumat = hari 2.
Jumat malam = malam 3. Sabtu = hari 3. (sumber akhir) (sumber akhir)

Apakah Yesus benar-benar mati ?

Ayat 57-61 Yusuf salah seorang murid Yesus yang kaya dari Arimatea, Markus 15:43 seorang anggota Majelis Besar terkemuka dan Lukas 23: 50-51 yang tidak menyetujui keputusan dan tindakan yang menyebabkan kematian Yesus, pergi ke Pilatus dan meminta izin untuk menguburkan mayat Yesus.
Markus 15: 44-45 Kepala Pasukan membenarkan bahwa Yesus telah mati. Yohanes 19: 33-34 Tetapi seorang dari prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

(sumber http://www.ontdekislam.nl)TBangsa Romawi memiliki banyak pengalaman dalam membunuh dan menyalibkan orang. Dan jika mereka menyatakan bahwa Yesus sudah mati, maka tidak perlu diragukan.
Di bawah ini adalah laporan medis penyaliban:
Penderitaan fisik dan mental Yesus Kristus dimulai di Getsemani dengan keringat darah; Dia mengalami hal yang sangat sulit; Yesus tampak sangat terbebani untuk menjalani cobaan seperti itu. Dia berdoa semalaman dan tetesan darah keringat jatuh ke tanah. Keringat darah adalah fakta yang terbukti secara medis dan juga disebut fenomena hematidrose. Hampir tidak pernah terjadi, hanya dalam tekanan emosional yang sangat ekstrem. Dengan demikian pembuluh darah terkecil pecah di kelenjar keringat. Keringat yang bercampur dengan darah ini menyebabkan kelemahan dan shock yang besar.
Setelah Yesus dikhianati dan dihukum yang diikuti pencambukan, Dia diikat ke tiang dengan tangan di atas kepalaNya dan dicambuk dengan cambuk. Ini adalah cambuk pendek dimana kulitnya dipasang bola timah yang dikombinasikan dengan beling. Garis-garis luka epidermis terbuka setelah beberapa kali cambukan. Kemudian cambukan tersebut masuk ke dalam lemak tubuh yang pada akhirnya menyobek otot-otot dan arteri yang menyebabkan kulit mengalami pendarahan hebat. Setelah puluhan kali dicambuk,kerusakan tidak dapat lagi diabaikan dan pendarahan besarpun terjadi. Pencambukan akan dihentikan ketika perwira yang bertanggung jawab merasa bahwa tahanan sudah hampir mati. Yesus tidak sadarkan diri setelah pencambukan. Ketika Yesus Kembali sadarkan diri, para prajurit kemudian melanjutkan siksaan dengan memberikan-Nya jubah dan mahkota duri di kepala-Nya yang menyebabkan Yesus terluka parah, karena mahkota duri tersebut menyebabkan pendarahan hebat. Para prajurit memukuli kepalanya sehingga duri-duri itu bahkan masuk lebih jauh di kulit kepala-Nya. Akhirnya, mereka sudah puas dengan permainan kejam mereka dan merekapun merobek mantel punggung-Nya.Tubuh Yesus dan jubahNya yang dipenuhi dengan gumpalan darah kering telah menempel ditubuhNya yang menyebabkan pencopotan jubah yang kasar oleh prajurit tersebut telah mengoyak terbuka luka-luka dan membuat rasa sakit yang setara dengan pencambukan sebelumnya. Dalam perjalanan ke Golgota Yesus harus memikul palang salib-Nya yang beratnya berkisar 50 kilogram. Kondisi Yesus yang sangat lemah dan kehilangan banyak darah menyebabkan Dia tersandung dimana 50 kilogram palang salib tersebut menekan otot-otot dan kulit yang terkoyak dibahuNya. Yesus tidak bisa Kembali berdiri karena anggota tubuhNya tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, sang perwira memanggil seseorang dari kerumunan banyak yaitu seseorang dari Afrika Utara yang bertubuh tegap (Simon dari Kirene) untuk memikul palang Yesus.
Setibanya di tempat penyaliban pakaian Yesus dilucuti dan bahuNya dilemparkan ke kayu salib yang menyebabkan bahu Yesus pun hancur. Seorang prajurit menghantam paku besi di antara tulang karpal di pergelangan tangan Yesus.
Kaki kiri diposisikan dibelakang kaki kanan dan kedua kaki di rentangkan, kemudian paku dihantamkan diatas kedua kaki yang telah diposisikan melengkung dengan kedua lutut dalam posisi sedikit ditekuk. Korban sekarang disalibkan. Yesus perlahan-lahan merosot dengan berat lebih banyak pada paku di pergelangan tanganNya yang memberikan rasa sakit yang sangat besar mulai dari jari-jari, lengan hingga kekepala. Paku pada pergelangan tangan menekan saraf di lengan. Untuk mengurangi rasa sakit ini Dia meregangkan tubuh yang menyebabkan menekan diri-Nya sehingga memberikan beban penuh pada paku di kaki-Nya. Ini menunjukkan rasa sakit yang hebat karena paku telah merusak saraf di antara tulang metatarsal (ditulis oleh Dr. Pierre Barbet, ahli bedah Prancis yang telah melakukan penelitian medis mendalam, historis, dan eksperimental untuk mendapatkan gambaran medis tentang Yesus Kristus).
Seiring dengan waktu, lengan Yesus yang lelah dan otot-ototnya yang mulai kram memberikanNya rasa sakit yang luar biasa sehingga hanya untuk menghembuskan napas saja hampir mustahil. Jam-jam ini memberikan rasa sakit yang tidak manusiawi, kram otot yang parah, menyebabkan sebagian mati lemas,rasa sakit yang menembus punggung yang patah yang diikuti dengan perjuangan kematian. Ada rasa sakit di dada yang dalam, perasaan seperti hancur, selaput di sekitar jantung (perikardium) yang perlahan terisi dengan cairan yang melebihi dari jaringan dan jantung ditekan bersama-sama (Dr. Pierre Barbet).
Hilangnya cairan dari sel-sel tubuh berakselerasi dengan sangat cepat. Jantung dalam keadaan sangat buruk karena tertekan, mencoba dengan sekuat tenaga untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Banyak sel-sel tubuh yang mengering dan mengirim rangsangan ke otak. Ini juga menjelaskan fakta bahwa Yesus berkata, 'Aku haus'. Paru-paru masih menerima sedikit udara. Tubuhnya hampir mati ketika Dia berkata: "Sudah selesai".
Setelah ini, Yesus mati. Untuk memastikan memastikan bahwa Yesus sudah mati, seorang tantara menusukkan tombaknya antara tulang rusuk kelima dan keenam perikardium jantung. Seketika keluarlah darah dan air yang menunjukkan bahwa Dia telah benar-benar mati.
Dari laporan medis sebelumnya tentang penderitaan Yesus Kristus, sangat jelas bahwa secara medis mustahil untuk bertahan hidup dari siksaan seperti ini.

Para prajurit mematahkan tulang-tulang pemberontak yang disalibkan Bersama Yesus sehingga mereka pun mati. Namun ketika prajurit itu datang kepada Yesus dan melihat bahwa Yesus sudah mati, dia tidak mematahkan tulang-tulang Yesus sehingga Kitab Suci digenapi bahwa tidak ada tulang-Nya pun yang dipatahkan, Mazmur 34:21.
Para prajurit mematahkan tulang-tulang pemberontak yang disalibkan Bersama Yesus sehingga mereka pun mati. Namun ketika prajurit itu datang kepada Yesus dan melihat bahwa Yesus sudah mati, dia tidak mematahkan tulang-tulang Yesus sehingga Kitab Suci digenapi bahwa tidak ada tulang-Nya pun yang dipatahkan, Mazmur 34:21.

Ayat 62-66 Keesokan harinya, setelah persiapan, para imam kepala dan orang-orang Farisi pergi ke Pilatus. Seberapa baik mereka mendengarkan perkataan Yesus setelah tiga hari saya akan bangkit kembali (dan betapa buruknya murid-murid Yesus sendiri percaya pada kata-kata Yesus). Mereka takut bahwa si penggoda Yesus, para muridnya akan datang untuk mencuri tubuh-Nya dan menyatakan bahwa Yesus bangkit dari kematian. Tipuan bangsa mana yang akan lebih buruk
Pilatus berwenang untuk menutup makam itu dan untuk semua keamanan, seorang penjaga ditempatkan di makam Yesus untuk menjaga siang dan malam. Penjaga bersama para imam kepala dan orang-orang Farisi pergi bersama ke makam untuk dimeteraikan


Matius 28- Kebangkitan Yesus dari Kematian

Verse 1 Ayat 1, Awal Mat. 2:22 dimulai dengan Yusuf pergi ke Galilea dan diakhiri dengan Mat. 28:7, 10 „Supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.“ Setelah hari Sabat untuk orang Yahudi dan untuk kita malam dari Sabtu sampai Minggu, di mana hari Minggu adalah hari pertama dalam minggu itu. Kedua Maria pergi pada saat menuju fajar untuk melihat kuburan Yesus (Yohanes 20:1 saat itu masih gelap). Markus 16:2 menyebutkan bahwa mereka pergi ketika matahari terbit.

Ayat 2-3 Terjadila gempa bumi besar dan Malaikat Tuhan turun dari Surga. Allahlah yang memerintah dan Allah yang telah mencapai kemenangan atas Setan. Batu nisan besar di depan makam yang disegel oleh para imam kepala, digulingkan oleh malaikat. Yesus bangkit dan keluar dari kubur, Dia telah menaklukkan maut. Lukas 24: 2-4 „tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.“ Putih yang menggambarkan kesucian yang sempurna dan tanpa dosa.

Ayat 4-6 Para prajurit Romawi ketakutan karena gempa besar dan penampakan Malaikat. Hati mereka bergetar dan menjadi seperti orang mati. Di sini Allah menampakkan diri bagi mereka, di sini mereka mengalami kuasa Allah dan mereka melihat malaikat yang bercahaya berupa kilat. Orang hidup yang harus menjaga orang mati, menjadi seperti orang mati. Dan orang mati yang harus dijaga, bangkit dari kematian. Alkitab tidak menyebutkan, apakah mereka telah melihat Yesus ketika Dia keluar dari kubur? Bagaimana kilat bisa sangat menakutkan bagi manusia? Kilat biasanya terjadi hanya sekejap, dalam satu detik. Namun kilat disini terjadi terus menerus, selama (puluhan) menit? Tidak heran para prajurit itu seperti mati. Malaikat berbicara meyakinkan kepada para wanita: jangan takut dan membawa mereka ke kubur untuk mengkonfirmasi bahwa Yesus Kristus tidak lagi berada di kubur dan sudah bangkit kembali dari kematian. Mereka adalah saksi mata pertama mengenai makam yang kosong. Yohanes 20: 6-7 Tubuh Yesus tidak dicuri oleh siapapun karena kain kafan (yang membungkus tubuh Yesus dan dikuburkan) ditemukan di dalam kubur. Jika mayat itu dicuri, maka kain kafan tidak akan ada di kuburan. Yesus Kristus tidak lagi berada di makam yang dijaga oleh tentara. Manusia dan imam-imam kepala memiliki pemikiran manusiawi mereka, Tuhan di atas segalanya yang mengatur hidup dan mati adalah Dia Yang Berdaulat.

Ayat 7 Sama seperti pada awal Matius, Yusuf menerima pesan dari seorang malaikat, pada akhir pasal Matius, para wanita menerima pesan dari seorang malaikat: Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.

Ayat 8 Para wanita tidak lagi diam di dalam kubur untuk lebih meyakinkan diri mereka sendiri. Mereka mematuhi perintah malaikat dan pergi dari kubur untuk menyampaikan pesan kepada sebelas murid-Nya. Tanpa beristirahat dan dengan tergesa-gesa untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Ayat 8 Para wanita tidak lagi diam di dalam kubur untuk lebih meyakinkan diri mereka sendiri. Mereka mematuhi perintah malaikat dan pergi dari kubur untuk menyampaikan pesan kepada sebelas murid-Nya. Tanpa beristirahat dan dengan tergesa-gesa untuk menyampaikan kabar gembira tersebut

Ayat 9 Para wanita melihat Yesus, mengenali-Nya lalu menyentuh kaki-Nya dan menyembah-Nya. Di sini jelas bukan roh. Mereka mengenali dan menyentuh kaki-Nya, sehingga Yesus Kristus, Tuhan yang bangkit, dengan tubuh yang nyata (tidak fana). Ini sesuai dengan 1 Kor. 15: 51-54 Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diubah dari tubuh yang fana (tubuh kita di bumi) akan diubah menjadi tubuh yang tidak fana (yang adalah tubuh surgawi dan abadi (= kekal), tubuh Surga. Tubuh tanpa dosa , karena tidak ada tubuh yang berdosa dapat hidup di hadirat Allah, Bapa, di Surga. Yesus tidak muncul sebagai roh, di Surga orang percaya tidak akan menjadi roh tetapi dengan tubuh nyata. Manusia itu adalah roh, jiwa dan Yesus dikenali di dalam tubuhNya, jadi kita akan mengenali sesama orang percaya di Surga.

Ayat 10 Setelah Malaikat berkata, jangan takut, Yesus Kristus (Kristus = yang dibangkitkan dari kematian) meyakinan wanita tersebut “jangan takut, Aku di sini, hidup dan Aku berdiri di hadapanmu dan kamu dapat menyentuh TUBUHKU.” Yesus mengulangi pesan malaikat, beritakanlah kepada para murid berita kebangkitan-Ku dan bahwa kamu telah melihat Aku secara langsung. Dan katakan bahwa mereka harus pergi ke Galilea, karena di sana Aku akan menampakkan diri bagi mereka.

Ayat 11 Beberapa penjaga, tampaknya hanya sedikit yang punya nyali untuk menceritakan kejadian itu kepada para imam kepala. Ingatlah bahwa para prajurit menghadapi masalah yang sangat besar. Para prajurit telah gagal dalam tugas mereka dan hukuman berat menunggu mereka (lihat Kisah Para Rasul 16: 27-28 penjaga ingin mencabut nyawanya sendiri), mungkin hukuman mati yang mengerikan.

Ayat 12-15 Imam-imam kepala mengadakan pertemuan. Apakah mereka percaya yang disampaikan tentara atau mengabaikan berita tersebut sebagai kabar yang konyol? Rencana Sanhedrin yang cerdas untuk menempatkan penjaga di makam agar menghindari kebohongan, sekarang beralih menjadikan tentara sebagai saksi hidup. Betapa berat nya ketidak percayaan mereka! Namun sekarang mereka menghadapi masalah besar, Yesus yang mereka kutuk sampai mati dibangkitkan oleh Allah dari kematian, sehinggga orang-orang Yahudi tidak akan memiliki iman dan kepercayaan kepada mereka lagi. Mereka telah kehilangan semua kredibilitas yang kemungkinan rakyat akan melempari mereka dengan batu. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memberikan solusi dan para tentara menunggu hukuman berat. Solusi yang diusulkan agar Pilatus tidak menghukum para prajurit adalah, dengan menawarkan sejumlah uang yang besar kepada para prajurit dan para prajurit harus bersaksi bahwa mereka tertidur dan para murid Yesus telah mencuri mayat Yesus. Sebuah kebohongan besar yang datang dari mulut pemimpin spiritual. Yang lebih aneh lagi adalah, orang-orang Yahudi percaya dengan kebohongan ini. Pertama, tentara dilatih untuk tetap terjaga dan tidak tidur. Semua (12?) Penjaga tertidur yang sangat nyenyak, tidur sangat nyenyak sehingga mereka tidak terbangun oleh suara batu yang sangat besar dan berat yang berguling tersegel itu? Ini seharusnya membangunkan mereka. Kedua, mereka mengklaim bahwa pencuri adalah murid Yesus. Bagaimana mereka bisa tahu hal tersebut jika mereka sedang tidur? Jika mereka bangun pada saat itu, mengapa penjaga atau prajurit tidak mencoba untuk menghentikan mereka? Ketiga, bagaimana mungkin para prajurit tersebut masih bebas, masih hidup,sementara orang-orang Yahudi tahu hukuman berat menanti jika kesalahan (= tidur) kesalahan terjadi saat mereka bertugas? Bagaimana mereka dapat berbicara dengan bebas, bahwa mereka tertidur, tanpa harus dihukum?
Pada saat Injil ini ditulis, kisah ini masih dipercaya oleh orang-orang Yahudi, tetapi juga hingga saat ini orang-orang Yahudi dan banyak orang tidak percaya mempercayai kisah para prajurit ini. Sementara jika seseorang berpikir secara wajar tentang tiga poin ini, cerita ini pasti tampak tidak dapat dipercaya.

Ayat 16-17 Para murid mematuhi perintah yang diberikan dan pergi ke Galilea. Gunung mana yang tidak kita ketahui, namun dipercaya gunung itu sangat lah terkenal bagi para murid dimana tempat Yesus sering berkhotbah. Mereka semua melihat Yesus dan menyembahNya Akan tetatpi keraguanpun muncul. Lukas 24: 36-43 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Yesus menunjukkan tangan dan kaki-Nya yang terpaku dan berkata “ rabalah dan lihatlah, karena hantu tidak berdaging dan bertulang seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Dan di depan mereka semua, Yesus memakan sepotong ikan goreng.
Yohanes 20: 24-27 pada penampakan pertama, Tomas tidak hadir dan bersikukuh tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh 10 murid kepadanya. Kemudian Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan membiarkan dia mencucukan jarinya di tubuh Yesus. Betapa besarnya ketidakpercayaan orang beriman dan orang yang tidak beriman.
Seringkali kita melihat dengan mata kita sendiri fakta-fakta yang ada namun tetapi bertahan dalam ketidakpercayaan.

Ayat 18 Pekerjaan Yesus selesai (tuntas), dan dengan demikian berakhirlah kuasa setan dan iblis, Mat. 4: 9. Bersamaan dengan tugas yang telah diselesaikan dan kebangkitan dari kematian, oleh Allah Bapa, maka semua kuasa di Surga (atas semua malaikat, termasuk malaikat yang jatuh) dan di bumi diberikan kepada Yesus. Dialah yang akan menghakimi orang yang hidup (orang percaya) dan orang mati (orang yang tidak percaya). Daniel 7:14 telah dilaksanakan dan akan digenapi di masa depan setelah Masa Kesesakan Besar dan setelah Kerajaan Seribu Tahun Yesus.

Perintah misionaris Yesus

Ayat 19 “Karena itu pergilah,” perintah Yesus untuk memberitakan Injil: kabar baik tentang pekerjaan Yesus Kristus, pembebasan dari dosa dan kehidupan kekal di Surga untuk SEMUA BANGSA, orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, tidak ada seorang pun di bumi yang terkecuali, setiap orang di dunia harus dijangkaukarena apa yang dimaksudkan Injil dengan semua orang adalah tidak ada yang dikecualikan. Jadikanlah mereka MuridKU, tidak hanya bagi orang percaya yang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi juga bagi para murid, yaitu para pengikut Yesus, yang melakukan perintah-perintah Yesus dan menunjukkan perbuatan-perbuatan Yesus dalam kehidupan sehari-hari mereka, penuh dengan Roh Kudus dan memberitakan Injil.
BAPTIS mereka dalam nama (Tritunggal) Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Baptisan adalah konfirmasi orang berdosa, bahwa ia mengakui sebagai orang berdosa dan hanya menerima pengampunan dosa melalui iman kepada Yesus Kristus. Ini juga menegaskan keinginan untuk menjadi murid Yesus, mematuhi perintah-perintah Yesus dan cara hidup-Nya. Baptisan bukanlah sesuatu yang main-main dan hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang sadar akan tindakannya (orang dewasa (dari 10-13 tahun)). Membuat pilihan dengan sadar untuk mau mengikuti Yesus Kristus.
“dan ajarlal mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Kehidupan Kristen BUKAN bersifat pilihan, itu adalah kewajiban untuk mengajarkan semua apa yang Yesus telah ajarkan (Perjanjian Lama dan Baru), ini adalah kewajiban untuk menunjukkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Melepaskan hidup di dunia, dan memulai hidup baru di bawah bimbingan Roh Kudus untuk melakukan kehendak Tuhan.

Ayat 20 Inilah janji Yesus Kristus bahwa Ia beserta kita. Tidak hanya selama kehidupan para murid-Nya, tetapi juga kepada setiap orang percaya / murid yang hidup setelah para murid ini. Yesus tetap bersama kita masing-masing sampai akhir dunia, juga dalam Kesengsaraan Besar.